Pernahkah Anda bertanya-tanya apa saja yang bisa terjadi ketika pekerja mulai menjalankan kegiatan reklamasi di lahan bekas tambang? Di depan mata, excavator bergerak perlahan, pekerja menata lereng, truk membawa material, sementara debu berputar mengikuti arah angin. Sekilas, semuanya terlihat seperti pekerjaan biasa, tetapi satu langkah yang keliru bisa mengubah situasi dalam hitungan detik.

Di sinilah risiko kerja pada kegiatan reklamasi perlu mendapat perhatian serius. Reklamasi memang bertujuan memulihkan lahan dan lingkungan, tetapi prosesnya tetap melibatkan alat berat, medan tidak stabil, material, lalu lintas kendaraan, hingga kondisi cuaca yang terus berubah. Karena itu, pekerja perlu mengenali potensi bahaya sejak awal agar pekerjaan berjalan aman sekaligus mencapai target pemulihan lahan.

Mengapa Reklamasi Tetap Memiliki Risiko Kerja

Kegiatan reklamasi mencakup berbagai pekerjaan, mulai dari penataan lahan, pengendalian erosi, pengelolaan tanah pucuk, pembuatan drainase, sampai revegetasi. Setiap pekerjaan menghadirkan karakter bahaya yang berbeda, sehingga tim perlu menyesuaikan pengendalian risiko dengan kondisi lapangan.

Kementerian ESDM melalui Kepmen ESDM Nomor 344.K/MB.01/MEM.B/2025 menempatkan penatagunaan lahan, revegetasi, pekerjaan sipil, pemeliharaan, dan pemantauan sebagai bagian penting dalam pelaksanaan reklamasi. Pedoman tersebut juga berlaku sebagai pedoman teknis nasional untuk reklamasi dan pascatambang.

Jenis Risiko Kerja pada Kegiatan Reklamasi

Risiko Alat Berat dan Kendaraan

Excavator, bulldozer, wheel loader, dan dump truck sering membantu pekerjaan reklamasi. Namun, alat tersebut juga dapat menimbulkan risiko tabrakan, tertabrak, terjepit, atau terguling ketika pekerja tidak menjaga jarak aman.

Karena itu, operator perlu memeriksa kondisi alat sebelum bekerja, mengikuti jalur yang sudah ditentukan, serta berkomunikasi dengan pekerja di sekitar area operasi. Tim juga perlu mengatur lalu lintas kendaraan agar pergerakan alat tidak saling mengganggu.

Risiko Lereng dan Kondisi Lahan

Lahan bekas tambang sering memiliki kontur yang tidak rata, kemiringan tertentu, lubang, timbunan material, serta area yang memerlukan penataan kembali. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terpeleset, jatuh, longsor, atau tertimbun material.

Tim perlu memeriksa kestabilan lereng sebelum memulai pekerjaan. Pengawasan juga harus berjalan selama kegiatan karena hujan, perubahan drainase, dan aktivitas alat berat dapat mengubah kondisi lahan.

Risiko Debu, Cuaca, dan Lingkungan Kerja

Aktivitas pemindahan tanah dapat menghasilkan debu yang mengganggu kenyamanan dan kesehatan pekerja. Selain itu, panas matahari, hujan deras, angin kencang, dan jarak pandang yang menurun dapat menghambat pekerjaan.

Tim dapat mengurangi risiko dengan mengatur waktu kerja, menyediakan air minum, menggunakan perlindungan pernapasan sesuai kebutuhan, serta menghentikan pekerjaan ketika kondisi lapangan tidak lagi aman. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengelolaan keselamatan yang menekankan identifikasi dan pengendalian risiko di tempat kerja.

Cara Mengurangi Risiko Kerja pada Kegiatan Reklamasi

Pengendalian risiko perlu dimulai sebelum pekerja turun ke lapangan. Supervisor dapat melakukan pemeriksaan area, briefing, pembagian tugas, pengecekan alat, serta memastikan pekerja memahami prosedur kerja.

Selain itu, perusahaan perlu menyediakan APD yang sesuai, seperti helm keselamatan, sepatu keselamatan, sarung tangan, pelindung mata, dan perlindungan pernapasan sesuai potensi bahaya. Pemeriksaan kondisi alat dan pengawasan lapangan juga membantu tim menemukan masalah sebelum kecelakaan terjadi.

Kesimpulan

Risiko kerja pada kegiatan reklamasi dapat muncul dari alat berat, kondisi lereng, kendaraan, debu, cuaca, maupun aktivitas manual. Oleh sebab itu, tim perlu menggabungkan perencanaan, pengawasan, komunikasi, dan penggunaan APD agar setiap pekerjaan berjalan lebih aman.

Selain keselamatan, tim juga perlu memilih metode konservasi yang membantu menjaga kestabilan tanah. Salah satunya melalui cocomesh dari Rumah Sabut, yaitu jaring sabut kelapa yang dapat membantu menahan media tanah dan mendukung pengendalian erosi pada area reklamasi. Dengan pengelolaan keselamatan yang baik dan dukungan metode konservasi yang tepat, proses pemulihan lahan dapat berjalan lebih terarah sekaligus menjaga pekerja dan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TOP