penyebab turnover karyawan tinggi

Penyebab turnover karyawan tinggi tidak selalu berasal dari satu masalah. Pergantian tenaga kerja dapat terus terjadi ketika beberapa faktor muncul secara bersamaan atau perusahaan menghadapi pola keluar yang berulang pada kelompok pekerja tertentu.

Misalnya, perusahaan mungkin melihat banyak karyawan baru keluar dalam beberapa bulan pertama. Pada kondisi lain, pergantian justru terkonsentrasi pada divisi, posisi, atau periode tertentu.

Karena itu, HR sebaiknya tidak hanya melihat jumlah pekerja yang keluar. Perusahaan perlu mencari pola di balik angka tersebut agar dapat memahami faktor yang paling relevan dengan kondisi tenaga kerjanya.

Mengapa Turnover Karyawan Bisa Terus Tinggi?

Tingkat turnover karyawan dapat meningkat ketika jumlah pekerja yang keluar relatif besar dibandingkan dengan rata-rata tenaga kerja selama periode pengukuran. Namun, angka tinggi tidak otomatis menunjukkan satu penyebab tertentu.

Perusahaan perlu melihat karakteristik pekerja yang keluar. Jika sebagian besar merupakan karyawan dengan masa kerja pendek, misalnya, HR dapat mengevaluasi proses perekrutan dan pengalaman awal pekerja.

Sebaliknya, apabila banyak pekerja berpengalaman meninggalkan perusahaan, evaluasi dapat diarahkan pada aspek lain seperti perkembangan karier, kompensasi, kondisi pekerjaan, atau pengelolaan tim.

Dengan demikian, pola turnover membantu perusahaan menentukan area yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Faktor yang Dapat Memicu Turnover Tinggi

Ketidaksesuaian antara pekerjaan dan ekspektasi dapat menjadi salah satu faktor. Informasi mengenai tanggung jawab, target, maupun kondisi kerja yang kurang jelas sejak proses rekrutmen dapat membuat pekerja menghadapi situasi yang berbeda dari perkiraannya.

Selain itu, pengalaman onboarding juga perlu mendapat perhatian. Karyawan baru membutuhkan arahan mengenai tugas, prosedur, target, dan pihak yang dapat membantu mereka selama masa adaptasi. Proses yang kurang terstruktur dapat menyulitkan pekerja memahami perannya.

Peluang perkembangan juga dapat memengaruhi keputusan karyawan untuk bertahan. Ketika pekerja sulit melihat kesempatan belajar atau perkembangan karier, sebagian dari mereka mungkin mempertimbangkan peluang di tempat lain.

Sementara itu, beban kerja, kompensasi, hubungan dengan atasan, dan kondisi lingkungan kerja juga dapat berkontribusi. Pengaruh setiap faktor tentu berbeda pada masing-masing perusahaan.

Cari Pola Berdasarkan Kelompok Karyawan

Turnover yang terlihat tinggi secara keseluruhan perlu HR pecah menjadi kelompok yang lebih spesifik. Perusahaan dapat membandingkan pergantian berdasarkan divisi, jabatan, lokasi kerja, masa kerja, maupun jenis turnover.

Pendekatan tersebut membantu HR menemukan konsentrasi masalah. Sebagai contoh, turnover perusahaan mungkin meningkat karena sebagian besar pekerja yang keluar berasal dari satu posisi tertentu.

Perusahaan juga dapat memeriksa alasan keluar melalui catatan administrasi atau exit interview. Namun, HR perlu melihat kumpulan informasi, bukan menjadikan satu jawaban karyawan sebagai kesimpulan untuk seluruh organisasi.

Dengan cara tersebut, evaluasi menjadi lebih terarah dan sesuai dengan pola yang benar-benar terjadi.

Gunakan Data untuk Mendukung Evaluasi

Perusahaan membutuhkan data yang konsisten agar dapat mengetahui apakah turnover benar-benar meningkat dan kelompok mana yang paling banyak mengalami pergantian. Catatan tanggal masuk, tanggal keluar, divisi, jabatan, serta masa kerja dapat menjadi dasar analisis.

Selain itu, aplikasi absensi online dapat membantu perusahaan mengelola riwayat kehadiran secara lebih terstruktur sebagai bagian dari administrasi tenaga kerja. Data tersebut dapat menjadi informasi pendukung ketika HR mengevaluasi kondisi pekerja.

Meski demikian, perubahan pola kehadiran tidak otomatis menunjukkan seseorang akan mengundurkan diri. HR tetap perlu menggabungkan berbagai informasi sebelum menentukan penyebab atau mengambil keputusan.

Kesimpulan

Penyebab turnover karyawan tinggi dapat berkaitan dengan ketidaksesuaian pekerjaan, proses onboarding, kesempatan berkembang, kondisi kerja, kompensasi, maupun pengelolaan tim. Namun, perusahaan tidak sebaiknya menganggap satu faktor berlaku untuk seluruh kasus.

HR perlu mencari pola berdasarkan masa kerja, divisi, posisi, jenis turnover, dan alasan pekerja keluar. Dengan analisis yang lebih terarah, perusahaan dapat menentukan faktor yang paling relevan dan memprioritaskan bagian yang membutuhkan evaluasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TOP